Tuesday, August 30, 2016

Persembahan dari Komunitas Genk Kobra.:

KITA TETAP BERSAMA



YAM PET YAM PET (lagu anak anak)



SERAT DONG DONGAN (Genk Kobra 2016)


Sunday, June 19, 2016

Gapuraning Karta Kabuka Gusti 1949 Jawa / 2016 M

Salam Romadlon 1437 H.
Sesuai dengan sengkalan Gapuraning Karta Kabuka Gusti / Pintu Rahmat/ Kemakmuran Dibuka oleh Allah SWT.

Semoga kita selalu dalam Lindungan Nya. dan selalu diberikan kelapangan hati serta fikiran yang jernih dalam menjalani & membaca kehidupan ini.


Monday, March 21, 2016

SELASIH



Sak enak enake Dawet sing wis mbok rasakke
Isih kalah enak Dawet Selasih Pasar Gedhe
Cabuk Rambak, Pecel Ndesa, sak Gempol Plerette
Brambang Asem kurang opo nggonku tresno kowe

Sak pait paite Jamu Gendhong Pasar Legi
Isih pait urip Kleweran ra mbok kancani
Nyoto Babat, Sego Liwet, Timlo tak turuti
Thengkleng Wedhus kowe kok yo ora ngerti ngerti

    Gathot... Gendar, Thiwul, Intip, Srabi
    Lentho... Tahu kupat, diCethoti
    Gembus... mung jenenge ra ndongakke
    Tak Oleh olehi telung jinah Sate Kere

Sak panas panase Tahok karo Wedang Ronde
Isih kalah panas ngopi nDomblong nyawang kowe
Balapan Tirtonadi ora umum ramene
Bale kambang Taman jurug nglaras nggo mbayangke

Sak adoh adohe Lokananta Sriwedari
Isih kalah adoh karo angen angen iki
Obat kangen mugo mugo nemu Gethuk Lindri
Pasar Kembang padhang saka esuk awan bengi

Sok-sok Ngangeni... Sok-sok Berseri... Sok-sok Bengawan... Sok dadi Siji.
Weruh Panganan... Eling Sliramu... Bingung kudu nesu, opo kudu ngguyu

Je. L. Santo & Habib Priyatmoko

Friday, January 01, 2016

POHON BERAS


Revolusi Mental

adikku ada-ada saja lagunya
masak nanya enyak tentang pohon beras
nyak begitu tanyanya emang beras ada pohonnya

tersentak aku oleh celotehnya lugu
aku dulu tak pernah begitu
aku jadi terharu

di kecilku dulu
sawah luas selebar jagat
pohon padi daun cincau pernah kucuri

adikku kecil tak lagi alami
bau lumpur nimba kalenan juga tak lagi
jangankan ani-ani pohon padi pun tak ngerti

. : ah, apa begitu perubahan ini
(Pohon Beras, 2009)

Sebuah puisi saya kutip di atas, sebagai pembuka tulisan ini. Puisi yang Saya tulis itu bercerita tentang sebuah generasi yang tak lagi mengenal pohon padi. Apakah ini sebuah ironi? Ironi dari masyarakat kita hari ini. Masyarakat yang konon dikenal sebagai masyarakat agraris, tetapi generasinya hari ini sudah tidak lagi mengenal pohon maha penting dalam kehidupannya. Sebuah pohon yang dahulu pernah membuat kita bangga karena keberhasilan swasembada pangan. Kini tidak semua anak dari generasi hari ini yang betul-betul mengenal pohon ini.

Seberapa penting generasi kita hari ini mengenal pohon-pohon yang begitu melekat dalam kehidupan mereka? Apakah sepenting mereka belajar bagaimana berselancar dengan baik di dunia internet? Atau keberadaannya tidaklah terlalu penting untuk diketahui. Karena mengenalnya adalah symbol ketertinggalan. Tidaklah penting generasi kita tahu apa dan bagaimana pohon ini. Cukup mereka mengerti bahwa beras adalah kebutuhan pokok mereka. Membelinya adalah cara termudah untuk mengonsumsinya.

Generasi kita hari ini, yang tak mengenal apa dan bagaimana pohon ini, rasanya tidak layak memimpin negeri ini. Bagaimana mereka mampu merasakan kebutuhan masyarakat luas bila kebutuhan dasar dari masyarakat dan dirinya sendiri saja, mereka abai. Sulit membayangkan seorang pemimpin masyarakat sama sekali tidak tahu bahwa ia dibesarkan dari pohon ini. Mengenal pohon padi adalah upaya mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah jalan menemukan sikap mental apa yang hendak dibangun
.
Modernitas dan perubahan mengasingkan  kita pada masa lalu. Kerap kita mengalami amnesia sejarah. Bahwa menemukan masa lalu tidak terlalu penting bagi upaaya untuk maju. Hari ini kebutuhan kita adalah bagaimana tampil sejajar dengan orang lain. Bahkan kalaupun belum sejajar bagaimana caranya disejajarkan. Tidaklah penting cara berpikir seperti apa yang kita gunakan. Tetapi, apa yang bisa kita tampilkan adalah sebuah pencapaian prestasi yang hebat. Meski, untuk itu kita hanya perlu menempelkan cara berpikir kita pada sekelompok masyarakat lain yang kita anggap lebih hebat. Tak penting isi (substansi). Terpenting adalah orasi.

Saya kira salah satu factor penting yang perlu dipikirkan dalam gerakan “revolusi mental” ini bersikap kritis pada hal-hal yang remeh temeh seperti ini. Mengajarkan generasi muda kita mengenal pohon padi bukan pekerjaan yang sia-sia. Mendekatkan mereka pada hal-hal yang sesungguhnya sehari-hari mereka makan, dirasakan dan hadapi adalah pekerjaan kebudayaan yang teramat penting. Ini jauh lebih penting dari sekadar membuat program beasiswa anak-anak penting untuk sekolah ke luar negeri. 

Revolusi mental tidaklah berasal dari ruang kosong. Ia pastinya berlatar kesadaran sejarah. Mau mengerti apa yang seharusnya menjadi bagian dari wilayah kesadaran kolektif jauh lebih penting dari sekadar kesadaran yang bersifat parsial. Karenanya, berbicara revolusi mental pada dasarnya kita sedang berusaha untuk mengerti latar kita terlebih dahulu. Apa dan bagaimana kita di masa lalu. Bagaimana kita berpijak hari ini. Dasar utama dari semua itu adalah kesadaran untuk mencoba melihat dengan jernih masa lalu kita. Memilahnya. Menemukan sesuatu yang berharga. Menjadikannya sebagai modal social kita hari ini.

Saya kira, ke arah sanalah gerak revolusi mental kita bisa dimulai. Seperti tersirat semangatnya dalam sebuah puisi dibawah ini:

ingatanku sedang mencari hulu
agar tepat jalan ke bentang muara
setiap berhenti singgah selalu sempat kupandang
ganggang lumut cere sepat rumput ilalang

di kampungku tak kutemukan laut
kuserahkan saja padamu pengartian gelombangnya
aku sendiri merasa asik saja menganyam jaring
memastikan waktu menangkap ikannya

di tempatku dulu biasa memanggil semut
dengan mantra katelku aliya kusebut
sebagai pemintal benang
agar datang semut-semut geramang

di sana tak ada yang mencintai puisi
seperti caraku saat ini

tetapi ibuku selalu berlinang
jika kubacakan padanya berulang

(Declare, 2009).
Mungkin suatu saat kita akan dipertemukan dengan sebuah pertanyaan, “Apa Jawa punya aksara?”. Wallohu a’lam.

By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation

Tuesday, November 17, 2015

Mengenalkan Kopi Dunia Lewat Aksara Jawa

Begitulah Judul Tulisan liputan Teman Wartawan dari Koran Sindo (Mas Hardjono) yang ikut hadir dalam Acara syukuran pembukaan Daipilong (Kedai Kopi Ndomblong) Arga Dumilah di Brambang, Bukit Bintang, Pathuk, Gunungkidul.
ada sebuah guyonan dalam acara peluncuran produk baru Kopi Ndomblong di Pathuk pada waktu itu.

"Jangan karena panjenengan tidak bisa baca aksara jawa, kemudian mencap saya tidak nasionalis karena menggunakan aksara jawa lho. Semua tulisan jawa dalam kemasan produk Kopi Ndomblong itu berbahasa Indonesia, dan ikrar NKRI kita itu Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. tidak ada Satu Aksara to....?"


Kamipun tertawa bersama...




Bahkan Nota di Daipilong Keprabon Solo dan Insya Allah di setiap Daipilong nantinya menggunakan aksara jawa juga.


Indahnya Bhineka Tunggal Ika.
(Bangga Dengan Budaya & Produk Bangsa sendiri)

Wednesday, July 08, 2015

KOPI & FONT JAVAHOLIC

Entah kenapa namanya kopi.
download font Genk Kobra

di Warung Kopi ndomblong, ada font yang bisa di kopi dan kopi yang dilelet untuk menulis font.
Ada 5 Font dari Genk Kobra yang bisa didownload gratis di download font genk kobra




















disamping bisa ngopi bareng sedulur-sedulur... bisa juga belajar aksara jawa.
 

Hanya untuk orang Eropa.... karena sayang sekali.... sudah jarang orang jawa yang bisa baca


Saturday, April 18, 2015

REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN AKSARA JAWA

Ketika Kebanggaan di Batas Nisbi.
(JARANKU SING IKI... JARANMU MLAYU NENG NGENDI....)

“Bangga & Gagah - Gagahan. Setidaknya saya bisa membaca papan nama jalan yang beraksara jawa” itulah jawaban saya ketika ditanya oleh beberapa orang yang menanyakan kepada saya,”Untuk apa nantinya jika kita sudah bisa menulis & membaca aksara jawa?”. sementara penggunaan aksara latin sudah mendominasi budaya literasi di hampir semua aspek kehidupan global masa kini.

Jawaban “Bangga & Gagah-gagahan” itu baru bisa saya ucapkan hampir 6 bulan kemudian. Jika waktu itu saya jawab :  “Dengan menguasai aksara jawa, kita mampu membaca sejarah dan falsafah jawa langsung dari source aslinya, yaitu serat-serat lama”, maka pasti akan dibalas : “itu kan bagi mereka yang memang suka membaca serat-serat jawa lama”. Dan saya pasti akan terjerumus pada debat yang berkepanjangan dan melebar ke hal-hal yang saya tidak punya kemampuan untuk menjawabnya. 

Buku ini saya susun berdasar pengalaman saya  pribadi ketika belajar aksara jawa di tahun 2011, Hal itu terbetik setelah Komunitas Genk Kobra mengadakan silaturahim dan Pentas Babar Budaya di Ngarsopuro, Solo.

Berat rasanya waktu itu ketika harus menghafal begitu banyak aksara dan rumitnya tata cara penulisan aksara jawa yang pada akhirnya kemudian menumbuhkan rasa permakluman di hati saya terhadap minimnya minat mempelajari aksara jawa dikalangan orang jawa saat ini.

“Wong Jawa ilang jawane” atau “Cintailah produk-produk dalam negeri” seakan hanya menjadi slogan histeria keresahan berjamaah, tapi pada kenyataannya, boleh saya katakan hanya sebuah disphoria semu. Dimana ketika mereka dihadapkan pada solusi simple, yaitu sebuah hal yang mendasar dalam ranah perkembangan sosial budaya sebuah bangsa yang disebut  komunikasi, dalam hal ini masalah membaca dan menulis aksara hasil karya bangsa sendiri, justru hanya mampu mengamini namun enggan memberi contoh kongkrit. dengan berbagai alasan klasik.



Yaaah......... selama ini saya hanya bisa melongok dan kagum terhadap beberapa bangsa yang tetap ngugemi aksaranya sendiri ditengah gencarnya gempuran globalisasi. Dan ternyata mereka jauh lebih survive dalam segala hal daripada bangsa kita, bahkan dengan berbekal karakter bangsanya itu justru menjadi bargaining yang kuat untuk mampu menguasai dan mengembangkan teknologi serta perekonomian global saat ini.

Betapa hal yang dianggap sepele bagi kebanyakan orang, seperti penggunaan aksara lokal, ternyata  mampu membentuk mindset cinta produk bangsa sendiri sejak usia dini sehingga berdampak positif pada perkembangan pemikiran berbangsa di masa depannya.

Gaul aksara Jawa bagi bangsa Jawa khususnya dan gaul aksara lokal bagi berbagai suku menjadi hal penting menurut saya di jaman sekarang dan masa depan kita. “Jika Gaul saja tidak, mana mungkin mencintai?”.

Sebelum kita bicarakan kembali aksara jawa, mari kita sedikit merenungi kenangan lama kita.

Pernahkah kita  berfikir : Kenapa dahulu sekolah formal itu syaratnya dimulai dari SD, kemudian SMP lalu SMA dst…? Kemudian kenapa Seiring perkembangan ternyata hal itu sudah tidak relevan, karena itu harus dibutuhkan Taman Kanak-Kanak?.

Lalu…., Apakah kemudian hal itu cukup? sejalan dengan perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan manusia?. Ternyata sekarang dibutuhkan Play Group sebelum masuk ke Taman Kanak-Kanak. Dan seterusnya-dan seterusnya.

Tahukah kita bahwa dahulu kala ketika membangun bangunan Aksara Jawa di kalangan masyarakat jawa itu CUKUP dengan HANACARAKA, karena dibangun diatas fondasi aksara Kawi yang sama-sama bersifat silabik (suku kata) dan bentuk yang hampir sama?

Sadarkah kita bahwa membangun aksara jawa dengan HANACARAKA sekarang ini bagaikan membangun kembali sebuah reruntuhan candi diatas air? Karena fondasinya sudah digenangi oleh aksara ABCD yang sangat berbeda karakter dan bentuknya?  Maka dibutuhkan sebuah pondasi awal baru untuk selanjutnya bisa dibangun bangunan aksara jawa komplit yang sering kita sebut HANACARAKA.,

Kembali kepada masalah pembelajaran aksara jawa sekarang ini. Aturan-aturan dan sistem pengenalan menulis dan membaca aksara jawa yang digabung dalam sebuah pelajaran bahasa jawa seakan justru menjadikan penulisan aksara jawa terasa semakin sukar, hingga menjadi momok bagi generasi muda kita jika bertemu dengan pelajaran menulis aksara jawa.

Seyogyanya menggaulkan aksara jawa di kalangan generasi muda menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri di luar pelajaran bahasa jawa, sehingga ketika kita belajar aksara jawa tidak terbebani dengan gramatikal dan tetek bengek lainnya, apalagi dibebani dengan bahasa jawa yang mungkin sudah tidak atau jarang kita pakai komunikasi sekarang ini.  

Sepanjang penulisan aksara, tanda vokal dan cara menempatkan aksara pasangan itu benar, maka tulisan aksara jawa kita BENAR.

Dan yang paling penting menurut saya adalah, pengetahuan tentang sejarah aksara itu sendiri dengan berbagai cerita-cerita sejarah bangsa yang melingkarinya perlu dikenalkan dahulu sebagai landasan kebanggaan dalam mempelajari aksara jawa. sebelum belajar ke aksaranya.

REKONSTRUKSI terhadap cara menghafal aksara jawa harus dilakukan. seiring perkembangan jaman. Jika di jaman dahulu, cara mengenalkan aksara jawa cukup dengan cerita Hanacaraka saja, karena sebelumnya orang sudah kenal bentuk aksara kawi yang hampir sama, sedangkan untuk kondisi saat ini jelas kurang mendukung, maka saya berikhtiar untuk memotong jumlah aksara menjadi hanya 11 aksara utama yang harus dan wajib dilalui untuk menuju ke semua aksara Jawa, dan aksara-aksara itu tersusun menjadi sebuah kalimat :

 “APA YA SARANA MADHANGI JAWA”.

Berdasar hasil dan respon yang saya temui selama hampir 3 tahun lebih sejak saya mulai mempelajari aksara jawa ini, maka ketika seseorang disodori untuk menghafal aksara dengan urutan HANACARAKA langsung, maka mereka merasakan banyak kesulitan dalam menghafal perbedaan antara “Sa & Da”, Ha & La” , “Nga & Ba” serta aksara yang hampir sama bentuknya dalam waktu bersamaan, yang akhirnya berdampak pada hafalan yang terbalik-balik. sebagai contoh : hingga kini masih banyak tulisan nama-nama jalan yang seharusnya ditulis “dalan” malah tertulis “salan”. Tulisan “bakal” malah tertulis “banal”.

Dengan Mengurangi jumlah aksara menjadi 11 yang disusun dalam 4 Baris, yang tiap baris mewakili ciri-ciri bentuk aksara jawa.
- Baris pertama adalah ciri-ciri lengkung,
- Baris kedua adalah ciri-ciri melingkar
- Baris ketiga adalah ciri-ciri bergerigi dan pisah.
- Baris keempat adalah ciri-ciri runcing beserta variasinya,
maka cara pengenalan dengan konstruksi urutan aksara ini akan memudahkan kita menghafalnya. disertai dengan trik-trik cara menghafalkan aksara pasangannya.

Metode “OPO YO” ini bisa dikatakan sebagai metode prahana (sebelum masuk ke hanacaraka).
Sudah pasti masih banyak kekurangan & sangat perlu pengembangan lebih lanjut, terutama oleh para sesepuh di bidang penggiat bahasa & aksara jawa yang lebih kompeten di bidang ini.

Dalam hal ini saya hanyalah orang awam di bidang aksara jawa, tanpa basic pendidikan bahasa & sastra jawa, Tergerak belajar menekuni aksara jawa dan mencoba urun rembug dengan niatan menjadikan aksara jawa lebih gaul di kalangan remaja sekarang. Dan berharap bahwa kemampuan membaca serta menulis aksara jawa menjadi kebanggaan bagi setiap individu, disaat orang lain tidak mampu
.
Demikian sekelumit cerita dibalik layar saya menyusun buku Gaul Aksara Jawa ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Amiiin

Matur Nuwun
Je. Genk Kobra

Sekali lagi Harapan saya, buku ini bisa dilihat dan difahami sebagai upaya menebalkan rasa kebanggaan terhadap produk bangsa kita sendiri dengan tetap beretika.

Friday, October 10, 2014

KARTOSURO >< SUROKARTO (trial)

 

Hampir 4 tahun Album ini kita upayakan untuk menyelesaikannya dengan segala perjalanan yang harus kita lalui bersama, dan Alhamdulillah pada akhir tahun ini segera kita luncurkan dan disusul dengan Album "Cekak Aos" Genk Kobra 2014

Tuesday, August 19, 2014

Limang Tahun Tirakat @ Ultah Hari Deklarasi NKRI ke 69

Bagaimana jika kita katakan saja bahwa 17 agustus adalah Hari Deklarasi NKRI?
Jadi bukan merdeka dari penjajahan.



Ngalamun @Bunker Liputan Massal Genk Kobra