Thursday, September 21, 2006

Kata pengantar (untuk sebuah buku teman saya)

Kata pengantar

Mungkin baru pertama kali ini saya menulis kata pengantar untuk sebuah karya tulis teman saya, rini nurul, yang tidak pernah saya tatap sua wajahnya secara nyata. Kami berteman baik di kehidupan paralel virtual, dia bergerak di wilayah bandung, sementara saya bolak-balik jakarta-jogja. Dengan tugas dan misi yang sama saja, mencoba menjadi penulis yang berkarya nyata. Kami biasa berkomunikasi via email dan sms. Ini tahun ke empat, sejak 2002, waktu saya masih berguru ilmu di RCTI dan Rini bersibuk diri di dunia penulisan situs internet. Dan sampai selama ini, komunikasi kami menggunakan jembatan alam virtual. Mungkin besok, lusa, setahun atau seabad lagi, kami baru berencana bertatap muka, dalam wujud nyata, sebagaimana biasanya :).
Ini karya tulis Rini yang ke berikutnya. Saya sudah membaca draft tulisannya, kesimpulan saya : karya yang menampilkan sisi kegelisahan dan kecemasan, mengisi sebagian besar wacana yang dia coba hadirkan. Kegelisahan menjadi penulis dan kecemasan mendapatkan 'numerasi' atas hasil karya yang dibuat. Sebuah proses kerja berformasi seri, namun kadang berubah menjadi formasi paralel atau malah mengubah sususan menjadi kecemasan dan kegelisahan. Telur lalu ayam, ayam lalu telur? Rini berusaha menggabungkan sisi kreatif dan pragmatis. Mengadu dua kutub menjadi 'pertengkaran makna' dan menariknya menjadi problem pribadi yang sebenarnya gambaran nyata kondisi jagad profesi penulis di Indonesia umumnya.

Sebenarnya sangat merisaukan (menyedihkan?) ketika Rini mencoba menghadirkan wacana realitas kaum penulis pemula (yang baru mewujudkan 1-2 karya secara komersial dan belum dikenal secara luas?), yang jatuh bangun menghadapi kenyataan hitungan bisnis bertempur dengan daya kreatifitas yang notabene dibangun dengan semangat otak kanan dan seratus persen emosi hati. Kalau hal-hal yang berkaitan dengan kebebasan imaji harus siap dibenturkan dengan nilai rupiah, maka bersiaplah, wahai para calon penulis dan pembaca semesta, siaplah menghadapi kenyataan hidup.

Beberapa bab tulisan, Rini begitu gamblang menceritakan cerita hidup tokoh 'Aku' dengan 'gaya kerja tidak terstruktur'. Menjalani hidup sebagai penulis freelance, yang pada awalnya menikmati hidup sebagai orang bebas, bisa mengatur ruang dan waktu untuk bekerja dan segudang jargon kemerdekaan seniman-penulis. Di bab 11, Rini malah menceritakan referensi bacaan sang tokoh 'Aku', yang sebenarnya penggambaran sisi 'anak-anak'. Mencoba merangkum jenis-jenis wacana komik, majalah anak-anak dan kenangan masa lalu ketika mencerna ragam bacaan yang tepat di usianya. Namun bab-bab lainnya, pembaca akan dibuat terombang-ambing antara kegelisahan dan kecemasan, sang tokoh utama digambarkan sebagai penulis yang cemas menjalankan hidupnya. Mungkin saja ini cerita nyata dari Rini sendiri? Mungkin saja ini cerita masa lalu dari para penulis sukses yang berada di singgasana popularitas? Mungkin saja ini cerita kita semua yang saat ini menjadikan profesi penulis sebagai mata pencaharian dan panggilan hidup?

Ah sudahlah, ini saat yang tepat untuk membuka halaman berikut dari tulisan sederhana ini. Bersiaplah masuk dalam ruang-ruang wacana yang Rini tawarkan dalam karyanya kali ini. Duduklah di depan cermin besar pada saat membaca bab-bab awal, lalu carilah tempat yang paling tenang, alam terbuka untuk menyelesaikan bab-bab terakhir. Sebab kegelisahan dan kecemasan yang ditawarkan harus berakhir. Bukankah dibalik segala kesulitan, ada selaksa kemudahan? Dibalik pergulatan nasib seorang penulis, menempa diri dengan segala problematika hidup dan harus tetap berkarya, bukankah seharusnya ada hadiah yang tepat untuk segala pengorbanannya? Maka, tetaplah bertahan hidup dan berjuang mendapatkan cita-cita itu. Dan jangan sampai mati di tengah jalan, sebab anugerah kehidupan ada di depan sana.

Salam

Sony set.
Sutradara TV program dan penulis.
scriptwriter@indonesia.com
http://genkkobra.blogspot.com